Kamis, 19 Juli 2012

Bingung

saya bingung.
terhadap dunia dan semua isinya.
saya bingung.
terhadap manusia dan berbagai cara pikirnya.
saya bingung.
kenapa saya begini dan mereka tidak seperti saya.
saya bingung.
kenapa mereka begitu dan saya tidak seperti mereka.


saya bingung.
mengapa tidak bisa mengkoordinasikan hati dan mulut.
tidak bisa me-realis-kan hati.
dan meng-abstrak-kan pikiran.
menyederhanakan yang rumit.
bahkan malah merumitkan yang sederhana.


saya bingung.
kenapa saya seringkali takut.
takut realita. takut khayalan.
mungkin saya pro asumsi.
malah mungkin cenderung protektif hati.
istilah lain: antisipasi super maxi.
mungkin produksi epinefrin saya agak tinggi.


Wow, saya kira jawabannya ada di Nabi Sulaiman.
Dia dekat sekali sama Tuhan.
Coba, cuma tiga hal yang bikin dia bingung, bahkan empat.
saya banyak.






I need to draw nearer.

Jumat, 27 April 2012

Orang Rumah: Mama

Mama saya orang Jawa. Nampaknya totok. Banyumasan bahasanya. Namanya Parmiati. Di daerah Desa Tambakmulya lah kampung halamannya. Anak desa betul-betul. Cuma bisa naik sepeda kumbang. Kemana-mana dulu mungkin ga pakai celana dalam. Mungkin cuma pakai jarit. Makanya terlarang duduk di depan pintu. Suka naik-naik pohon, terutama kalau angin besar datang. Dia akan naik dan bergelantungan di pohon melinjo.

Mama anak ketiga dari 7 bersaudara (yang masih hidup). Yang pertama dan yang terakhir laki-laki, sisanya perempuan. Kebayang kalau Bule datang semua, rameeeeeeeeee!!!!! perempuan semua. Mereka semua sukanya masak-masak sambil ngobrol. Semua masakannya manis-manis.

Mama cuma tamat SD, dan itu juga katanya ga qualified. Masa ga masuk sekolah 3 bulan bisa naik kelas? bukan karena ga mampu sekolah, tapi karena main dan keasikan jualan melinjo. Kelas 1 katanya pelajarannya menghitung lidi. Dan katanya gurunya naksir dia, makanya dinaikin ke kelas selanjutnya. Huahahahahahaha! Dulu mama pernah menikah sebelum sama papa, cuma karena salah paham. Jadi Embah Kakung (opa) nanya apakah mama mau ketemu sama si A (dikasih lihat fotonya, ga terlalu jelas, soalnya tampak samping). Dan mama bilang iya. Eh, ternyata opa pikir dia mau nerima lamaran si A itu. jadilah mereka nikah, tapi si mama langsung kabur ke Gua Ayah, dan cuci muka di sungai di dalam gua sambil berdoa pengen cerai. Dan akhirnya mereka bikin-bikin perkara si KUA sampai akhirnya bisa cerai dan mama pindah ke Bandung, kerja.

Saya lupa urut-urutannya, tapi mama pernah kerja jadi pernjaga di toko baju, dan juga pernah jadi baby sitter. Wow! Beliau pernah kerja ke orang Taiwan, yang katanya baik abis, sampai-sampai dibeliin baju dan makan satu meja sama mereka (Jawa banget yah, ga enakan). Bahkan anaknya bos papa sekarang, dulu diasuh sama dia. Sampai-sampai waktu menikah banyak dibantuin ama bosnya papa. Mereka ga punya pelaminan, cuma pakai spring bed si bos jadi kursi! What a marriage! Di tempat kerjanya yang terakhir (ketemu papa di situ), dia kerja jadi tukang nimbang kancing. Hahahahaha, rumah pertama mereka tuh kamar di belakang pabrik yang dipinjemin si bos! Si Bos ni berjasa banget lah pokoknya.

Seperti ibu-ibu pada umumnya, pastinya sering banget nyerewetin anak. hahahahaha. Cerita jaman dulu waktu hamil aku, katanya bahagia, mau apa aja dapet, terus banyak makan. Nah, jadilah anaknya pun begini. Santai, dan banyak makan. Lain banget hamil adikku. Bawaannya nangis terus, terus susah makan, udah gitu lahirnya prematur lagi. Wah, mungkin itu sebabnya dia jadi super melankolis dan kurus, terus sakit-sakitan kecilnya.

Waktu pertama kerja di kota dan naik lift, dia ga ngerti itu lift. Dia bilang ngapain lah ini semua orang masuk ke ruangan kecil begini. masak iya kamar kok kecil begini, oh ternyata itu lift, bisa naik-turun. Tapi biar udik awalnya, mama gaul. Seenggaknya baju-baju dan kerudungnya modis. Bahkan lipstik dan alat make-upnya aja palet. gaulnya mama itu keliatan waktu dia berangkat sama temen-temen ibu-ibunya ke Bali.

Jadi sebetulnya mama tuh gak tahu gimana cara nyiram WC duduk yang kadang panel airnya suka aneh-aneh. Tapi dia sok-sok tahu aja, ngeliatin orang, nanya diem-diem, atau coba-coba dulu sendiri sebelum telanjur pipis. Setelah ketahuan, ilmunya disimpen aja, ga dibagi juga ke ibu-ibu yang lain. Walhasil ibu-ibu yang lain tu dengan paniknya nyemprot WC sana-sini sampai bajunya basah semua. Terus mereka bikin lantai WC kering tergenang air karena mandi pake gayung (itukan bath tub!)! Si mama sih santai-santai aja, pura-pura mandi atau y beneran berendem di bath tub. Pokoknya ga pernah jadi tukang onar.

Terus dia waktu itu belum tahu gimana caranya pake hape. Tapi temennya ada satu yang ngejago pake hape. Sekitaran tahun 2002-an lah. Anak si tante itu udah nulis kiat-kiat menelepon sama kiat-kiat mengirim SMS di secarik kertas. Karena waktu itu malam-malam, si mama pengen minta dijemput, dan akhirnya memutuskan untuk minta tolong temennya untuk SMS papa. Tahu gak apa kata temennya? "Sapinya belum keluar, jadi ga bisa kirim SMS." sapi itu maksudnya gambar screen saver hape monophonic jaman dulu. Wah, kata si mama dalem hati, kalo ga bisa ga usah alasan lah. hahahahaha.

Terus juga, waktu dia naik kapal ferri nyebrang di selat mau ke Bali, temennya tetep ngotot kalo mereka masih di ruang tunggu. Padahal secara mereka udah ada di dalem kapal dan kapalnya jalan. Alasan itu adalah ruang tunggu: di situ banyak kursi, dan lantai beserta atapnya bagus. ada TV lagi. Aduh, tante, dari mana sih asalnya?

Biar dari kampung, mama tuh pengetahuan sosialnya banyak, dan cukup wise sehingga semua tetangga curhat sama dia dan minta wejangan. Orang cuma lulus SD kampung. Dan jangan salah, dia pernah juga naik pesawat, walaupun lebih sering naik kereta api ekonomi sama ayam atau jalan kali (pernah juga naik becak sampai jongkeng di pasar, baunya minta ampun). Hahahahaha, sekelumit kehidupan. Nobody knows what will happen. Dan sekalipun begitu, bangga juga dia, anaknya pernah ke Singapura.

Kamis, 26 April 2012

Negeri Saya

Saya cinta negeri saya. Tapi saya masih mencari bagaimana caranya untuk mencintai negeri saya.

Dipelajari, ditelusuri, dikunjungi, difoto. Menjalani penelitian, belajar tarian, mengajarkan yang saya tahu, merenungkannya.

Saya sudah berkeliling, Bandung setidaknya, dan saya menemukan harta karun: ensiklopedi bahasa Sunda dan kearifannya, berbagai cerita rakyat, buku budaya nusantara, film-film karya anak negeri, poster dan foto Bandung tempo dulu, ekologi Indonesia, dan kartu posnya. Toko Buku Djawa.

Saya mencicipi. Berbagai bitterballen peninggalan Belanda. coklat dan kue-kuenya. Bahkan Gudeg Wijilan dan Ayam Kalasan, pecel di kereta api sampai di restoran. Batagor pinggir jalan sampai sirip ikan hiu. kopi susu Mang Dadang sampai ngeBucks.

Saya mempelajari. Budayanya, tariannya, bahasa daerahnya, menghidupinya, berkeliling ke museumnya, bahkan menjadi guru berharap menginspirasi yang lain.

Saya masih mencari caranya. Bahkan merencanakan ke benteng batavia di sunda kelapa untuk akhir pekan. Saya ingin meresapi makna dari setiap perjuangan. Saya ingin menyerap energinya.

Orang Rumah: Papa

Papa itu peranakan. Masi punya nama 3 suku kata. Jap Ong Tjay. Tidak tahu bagaimana ceritanya bisa menjadi Benny Supandi. Beliau anak ke-4 dari 7 bersaudara. Anak ke-3 laki-laki juga, tapi sisanya perempuan. Wuih! karena dari pihak papa, semua saudara-saudaranya harus saya panggil dengan akhiran "-koh", misalnya akoh, jikoh, sakoh, dst. sesuai huruf dagang. it, ji, sa, si , go, lak, cit, pe, kau, cap (1,2,...,10).
Waktu papa masih umur 5 tahun, engkong (opa) meninggal. Jadi sebetulnya dia tidak begitu ingat dengan papanya sendiri. Profesi opa jaman dahulu adalah tukang menyewakan lampu teplok untuk undangan dan hajatan-hajatan. Jaman dahulu tidak ada lampu listrik. Jadi semua harus menggunakan lampu minyak yang besar-besar untuk menerangi kenduri. Mirip dengan lampu-lampu teplok yang ada di pasar malam.


Karena opa meninggal,oma berjuang sendirian sebagai tulang punggung keluarga. Dia tukang masak. Dahulu katanya punya katering (katering kah? atau hanya orang pesan makanan saja? aku tak tahu). Anak-anaknya jago masak, termasuk papa dan kokonya, walaupun mereka laki-laki. Nasi putih saja, kalau di rumah papa yang masak, enak sekali. belum lagi telur orak-arik, bacian, nasi goreng, sampai-sampai mengiris-iris bawang merah saja mama di rumah kalah cepat dan kalah tipis. Sekarang, kalau ada acara kumpul keluarga, saya bahagia. Banyak makanan enak. Bibi pertama jago masak rujak pengantin. Bibi kedua jago masak galantin dan bacang. Kokonya papa jago bikin segala macam sup. Adik perempuan papa yang satu jago bikin bakso, yang satu jago bikin kue-kue kering dan basah, dan adiknya yang paling bontot jago masak baso tahu dan ayam jahe. Surga!

Dulu papa bisa sekolah sampai SMA. Sekolah di Swadaya, sampai sekarang pun masih ada sekolahnya, di Jalan Pagarsih. Rumah pun masih ada di sana. Dulu katanya sering diusir dari sekolah karena tidak punya sepatu. Sejak muda dia suka kerja, dan pernah kerja di pabrik permen untuk membungkus permen dan melinting pinggiran bungkus permennya. Upahnya Rp 25,00. Dikumpulkan untuk beli celana panjang.
Kakak-kakaknya dulu katanya tidak mau membantu membelikan sepatu. Walaupun mereka sudah bekerja. Dahulu, papa sering bantu-bantu oma mengupas lobak, kentang, dll. Sampai sekarang papa suka mengajarkan aku trik-trik untuk lebih cepat mengupas, mengiris, dll. Bahkan besar-kecilnya api saja dia yang mengajarkan. 

Papa suka mie. Saya juga. Dia sering kangen angsio ayam. Mungkin harus saya belikan nanti sepulang kerja. Walaupun dia keturunan Cina, dan dia suka lagu Cina tradisional, tapi kegemaran dia adalah mendengarkan calung-angklung-tarling asli Sunda. Apalagi kalau ada drama bahasa Sunda di TVRI Jawa Barat. Pasti ditontonnya sampai tertawa-tawa sendiri.

Papa suka kucing. Anjing juga sih, tapi kucing dia bisa dibilang ahli. Dari cara pegang, bikin mainan, bahkan ramuan pas untuk makanan kucing pun dia tahu. Dan entah kenapa kucing-kucing kalau di rumah pasti duduk atau tidur di pangkuan papa. Mereka ga pernah mau saya gendong. pasti meronta-ronta dan gigit-gigit jari minta dilepas. Hahahahahaha. Ga bakat miara apapun, kaktus aja mati. 

Dia orang yang liberal. Dia tidak pernah memaksa saya untuk pilih jurusan kuliah, mau sekolah di mana, mau kuliah di mana, mau cuti kah, mau kerja di mana, dia pasti kasih wejangan sekali aja, sisanya terserah. nanti kalau saya bandel, ujung0ujungnya wejangan itu teringat dan malu pulang ke rumah. Tapi dia tidak marah. Duduk aja nonton TV, bahkan ikut menanggung semua sampai beres kalau ada apa-apa. Karena dia tidak pernah marah, maka kalau dia sekali marah dan teriak ,"Heh!" semua orang di rumah langsung nunduk. Diam-diam pulang ke kamar masing-masing. 2 jam kemudian, semua damai.

Papa tahu banyak. Bahkan kwetiaw babi paling enak aja dia punya rekomendasinya. Dia tahu banyak tempat. Bahkan, dia pernah ke luar negri. Ada foto-fotonya waktu dia di HongKong. Di sea world hongkong. Masih kurus tinggi dan pakai celana cut bray macam trend nya waktu itu. rambut gondrong, bahkan pernah panjang banget sampai dikira perempuan dari belakang. Dulu dia suka merokok, makanya kurus. Tapi gara-gara adikku bronchitis, dia total berhenti merokok dan uang beli rokoknya dijadiin uang asuransi pendidikan adikku.

Dia bukan orang yang banyak omong, tapi orang rumah tahu apa maunya. Dia bukan orang yang suka perintah, tapi setiap orang rumah pasti nurut sama dia. Kata adiknya yang paling kecil, papa itu punya wibawa, sekalipun ga galak. Semua segan dan hormat sama dia.

Seperti orang flegmatik pada umumnya, dia senang di rumah, senang tidak melakukan apapun, dan sebal kalau harus datang ke acara-acara seperti pemakaman, atau sekedar menyapa teman mama yang datang. Tapi dia sepertinya senang sih datang ke pernikahan. Atau lahiran bayi, arisan, apalagi acara lamaran. Seru kali ya. Dan dia ga mau kemana-mana kalau mama ga ikut. Kalau urusan belanja dan voucher belanja, dia hemat banget. Cina lah, bukan pelit. Tapi ngatur semua berdasarkan prioritas.

Hahahaha, saya bisa bilang papa orang sukses. Walaupun gaji dia sedikit banget, tapi kami ga pernah kurang, dan beliau juga ga punya utang. Walaupun tabungannya setelah puluhan tahun segitu-segitu aja, ga pernah tuh kami ga makan, ga pernah nunggak uang SPP, bahkan anak-anaknya sekarang bisa kuliah. Papa saya bukan pejabat. Dia rakyat jelata, tapi bisa mengikuti tuntutan jaman. jaman sekarang modal kuliah, anaknya bisa kuliah, dia juga bisa pegang hape dan pake yang touch screen. Dia hebat! The best papa in the world lah, buat aku. Dikasih Tuhan.

Kali-kali, ajak papa makan di luar ah..

Selasa, 17 April 2012

Darah, dan Tumpah Darah


Saya keturunan Cina, namun berdarah setengah Jawa. Saya suka berdarah Cina. Saya merasa berkelas. Siapa yang tidak tahu etnis Cina dan pencapaiannya? Siapa yang tidak punya paham bahwa Cina pasti ulet, loyal, fair soal harga ketika berdagang? Siapa yang tidak mengakui masakan Cina punya citarasa yang diidamkan orang-orang? Siapa yang tidak mengenal efisiensi dan keefektifannya dalam mengatur uang? Siapa yang tidak familiar dengan ketatnya pekerjaan dan kerasnya pelaksanaan kerja? Siapa yang tidak merasa beratnya kerja namun penghargaan yang sesuai akan didapat? bahkan jarang orang mengelak bahwa berbisnis atau pergi ke toko lebih baik ke toko orang Cina. Belum lagi pengobatan dan junjungan tingginya akan leluhur, keTuhanan, dan menghargai keindahan dan welas asih?


Saya keturunan Jawa, namun berdarah setengah Cina. Darah Jawa mengajarkan saya untuk nrimo. untuk hormat pada yang lebih tua. Untuk cium tangan kepada Bude dan Pakde. Untuk menjadi istri yang selalu mengabdi pada suami. Untuk memendam kesedihan sendiri, dan tetap selalu lemah lembut. Selalu mendengarkan, nada yang rendah. Meditasi. Untuk memanggil 'Mbak' atau 'Mas' kepada orang yang 'kasta'nya lebih tinggi walaupun umurnya lebih rendah. Hirarkis. Namun tetap waspada seperti perlambang keris di belakang punggung. Selalu sopan, dan cenderung berbelit untuk membuat segala sesuatu lebih 'halus' terutama sindiran. Dan mitos. Tidak boleh bangun siang, tidak boleh duduk di depan pintu, tidak boleh tidak bersih ketika menyapu, atau sang suami akan buruk rupa.


Saya berdarah Cina. Saya memuja kecantikan Cina. Kecantikan Dinasti Naga. Kulit putih, halus, bibir tipis, langsing, rambut lurus, hitam. Kecantikan Cina Utara, kebaikan memakai cheongsam. Namun yang saya dapat adalah ciri Cina Selatan. Gemuk. Teringat semangka di mana-mana. Namun mata tetap kecil. Rambut tetap hitam, dan lurus.


Saya berdarah Jawa. Saya memuja kecantikan Jawa. Kecantikan Putri Keraton. Kulit eksotis, badan penari Bedaya, postur petapa brata. Rambut hitam, panjang, tebal, agak ikal. Gelungan yang besar di belakang kepala dengan tengkuk yang indah. Keindahan memakai kebaya, kebaikan memakai kain jarit. Batik. Namun saya dapat badan mbok penjaja pecel di luar keraton. Pakai sepeda dan topi caping. Kulit terbakar dan betis besar.


Saya berdarah Cina, namun setengah Jawa. Saya cinta leluhur dan istiadatnya. Saya suka tarian dan kebudayaannya, walaupun ingin memilih untuk tidak menjalaninya; hanya menontonnya. Menonton Putri Huan Zhu sang Manchu belajar berkowtow dan memakai sumpit, sekaligus memakai sepatu pot bunga untuk menghindari kaki dilipat lambang kecantikan bunga lotus; yang olehnya status seorang wanita ditentukan: akan berjodoh dengan sang Tuan Tanah atau dengan sang penarik kerbau. Namun saya menginginkan kearifan budaya terhadap alam dan penghargaan terhadap sesama manusia. China ada dimana-mana tapi tidak pernah menjajah daerah yang dikunjunginya. Serta loyalitas dan kerja keras. Juga cheongsamnya.


Saya berdarah Jawa, setengah Cina. Saya suka 'njeh, ndoro' nya. saya suka sopan santunnya, bahkan kemagisan penari dan keratonnya. Semua ritual dan ratus wanginya. Walaupun tetap memilih untuk tidak menjalaninya. Suka dengan ketukan alu dalam lesung, bertani dan bertelanjang kaki lambang kesederhanaan. Blangkon dan beskap perlambang digdaya. Kemben dan dodot perlambang hidup baru. Saya menginginkan sopan santunnya. Keteraturan hidupnya. Rendah intonasinya.


Saya tidak makan dari tanah daratan Cina. Tapi bagian dari beberapa protein gen di dalam DNA mengandung kehidupan setitik tanah Cina. Saya banyak makan, menghirup udara, bahkan melakukan siklus kehidupan sewajar-wajarnya dari tanah Jawa, sangat sedikit hasil tanah Bali, dan sangat sedikit Singapura. Namun tetap tidak sepenuhnya Jawa.


Saya bukan sepenuhnya Cina, saya bukan sepenuhnya Jawa. Tapi saya sebenar-benarnya orang Indonesia. Saya belajar bahasa Indonesia formal dan non-formal, dalam segala format dan istilah bisnis, sosial, sains, dan kebudayaannya. Saya hanya bisa sedikit Jawa non-formal, sangat sedikit bahasa Mandarin, tidak bisa Hokkian sama sekali.


Saya orang Indonesia. Tanah ini dengan urutan sejarahnya telah menyediakan saya ruang untuk lahir, untuk bisa mengecap setitik kehidupan, dan belajar untuk bisa beradab dan beradat. Tanah yang sangat cocok untuk tempat saya lahir. Tanah yang menyediakan dan mentolerir perbedaan dan pencampuran ragam budaya. Tanah yang menghargai perbedaan, tanah yang menampung kebingungan keberagaman. Tanah untuk campuran seperti saya. Untuk bisa meneruskan kebudayaan. Untuk sadar bahwa kepada tanah ini saya berhutang, dan berjuang.


Dan Bhinneka Tunggal Ika itu, terjadi dalam raga. Saya sebenar-benarnya Indonesia.